Aku bersama kelima orang anakku
Hari ini tepat satu tahun engkau pergi untuk selamanya meninggalkan aku dan anak-anak kita yang sangat menyayangimu.Di hari ini hadir kembali dalam benakku kenangan-kenangan kita,kenangan dimana kita selalu bersama-sama dalam suka dan duka dalam membesarkan anak-anak kita,kenangan bagaimana setianya dirimu mendampingi aku dalam membina keluarga selama hampir 50 tahun.

Diriku yang pada awal kita berumah tangga hanyalah seorang pegawai negeri sipil yang berpenghasilan rendah, tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga seiring bertambahnya buah hati kita membuat dirimu harus rela membantu aku mencari penghasilan tambahan untuk biaya hidup keluarga dan sekolah anak-anak kita yang berjumlah 6 orang,engkau pun akhirnya membantu perekonomian keluarga dengan membuka warung kecil-kecilan di rumah. Berkat bantuanmu juga alhamdulilah kita bisa memberikan pendidikan yang layak buat anak-anak kita ,walaupun kita tidak bisa memberikan mereka barang-barang mewah seperti teman-teman nya yang berasal dari keluarga berkecukupan karena memang kita tidak mempunyai uang lebih untuk memberi mereka barang-barang itu.Alhamdulilah mereka pun mengerti dengan kondisi kita.


Setelah kelima orang anak kita sudah berkeluarga berarti tinggal si bungsu yang masih menyelesaikan kuliahnya, engkau mulai merasa sakit-sakitan dan akupun memasuki masa pensiun.Dengan menurunnya kesehatanmu akhirnya engkaupun memutuskan untuk berhenti berjualan ( sesuai dengan saran anak-anak kita ) karena insya allah uang pensiun ku yang tidak besar bisa mencukupi kehidupan kita bertiga.

Setelah berhenti berjualan dan aku sudah pensiun,aku sering memaksa mu untuk memeriksakan kesehatan ke dokter. Setelah dilakukan pemeriksaan lab di ketahui bahwa dirimu menderita diabetes mellitus (DM).Dokter pun menyarankan untuk mengurangi makanan tinggi kalori dan harus menerapkan pola makan yang sehat. Bertahun-tahun engkau rajin mengikuti saran dokter, sampai 2 tahun terakhir dokter menyarankan harus ditambah insulin.

Engkaupun melaksanankan saran dokter, 2 kali sehari (pagi dan sore) tubuhmu harus merasakan sakitnya jarum suntik untuk memasukkan insulin ke tubuhmu,anak kita yang berprofesi seorang perawat lah yang setiap hari bertugas memasukkan insulin itu ke tubuhmu. Aku menganggap semua saran dokter itu sebagai siksaan buat mu, tapi ternyata anggapan ku salah, engkau tidak menganggap semua itu sebagai penderitaan tapi sebagai jalan untuk meraih cita-citamu yaitu KESEMBUHAN.

Sampai suatu pagi setelah diberi insulin, tenggorokanmu merasakan ada sesuatu dan engkapun terbatuk dan mengeluarkan darah,kita sekeluarga panik tapi lagi-lagi engkau menenangkan kami dan berkata “sudah tidak apa-apa, sudah biasa ko” dengan raut wajah yang mengharapkan aku tidak memarahimu. Akupun terdiam “Ya Rabb kenapa dia menyembunyikannya dari aku suaminya??apakah dia tidak ingin membuat kami bertambah sedih?”

Pada waktu makan siang seperti biasa engkau menyantap dengan lahapnya semua menu yang disiapkan oleh anak-anak. Begitu pun dengan makan sore tidak ada yang aneh dari mu.

Malam harinya karena ada pekerjaan, akupun meninggalkan mu dan si bungsu di rumah. Aku tiba di rumah pukul 23.00, kulihat istriku sudah tertidur lelap begitu pun dengan si bungsu. Akupun akhirnya berangkat tidur juga. Sekitar pukul 01.30 dini hari istriku bangun, dia pasti mau ke kamar mandi pikirku karena beberapa bulan terakhir dia memang selalu ingin buang air kecil kalau malam hari. Sampai 10 menit aku tunggu dia belum kembali juga, aku pun menuju ke kamar mandi dan aku dengar dia terbatuk-batuk,aku bilang “sudah tidur lagi aja di kamar, kedinginan mungkin” dia pun menjawab “ iya, tapi ga kuat jalannya”. Akupun menggendong dia ke kamar tidur, baru beberapa langkah aku menggendong nya, aku merasa “ko dia kayak lemes banget ya?”. Sesampainya di kamar aku hendak mendudukkannya tapi dia malah langsung terjatuh ke tempat tidur, aku pikir dia pingsan maka aku panggil anak-anak ku untuk membawanya ke rumah sakit.

Setelah anak-anak kumpul,salah seorang dari mereka memeriksa kondisinya dan mengatakan kalau ibunya sudah tidak ada. Aku pun kaget dan tidak percaya, tapi mau bagaimana lagi ajal memang sudah datang menjemputnya mungkin ketika masih berada dalam gendongan ku.

Kepergiannya membuat aku sedih pastinya, tapi aku harus tegar dan ikhlas demi kelancaran perjalanannya di alam sana dan demi anak-anak kami. Aku merasa setengah dari jiwaku hilang, entah apa yang akan terjadi pada setengah jiwa yang masih ada di bumi ini????


Based from true story.


This entry was posted on 23.24 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

1 komentar:

    Unknown mengatakan...

    ceritanyaa.... rasa itu.... menjauh..

  1. ... on 7 September 2011 pukul 00.05